SEJARAH SINGKAT KOTA SAWAHLUNTO

Pada pertengahan abad ke-19, Sawahlunto hanya sebuah desa kecil dan terpencil, yang terletak di tengah hutan belantara, dengan populasi ± 500 orang. Sebagian besar penduduk menanam padi dan bercocok tanam di tanah dan tanah yang sebagian besar tidak cocok untuk lahan pertanian sehingga Sawahlunto dianggap sebagai daerah potensial. Setelah penemuan Batubara di Sawahlunto oleh ahli geologi Belanda Ir. W.H.De Greve pada tahun 1867, kemudian Sawahlunto menjadi pusat perhatian Belanda. Pada tanggal 1 Desember 1888 keputusan dibuat mengenai batas-batas ibukota Afdealing di Sumatera Barat. Penentuan ibu kota Afrika tentu terkait erat dengan wilayah di wilayah tersebut. Oleh karena itu pada 1 Desember 1888 dapat dikatakan bahwa Sawahlunto mulai diakui keberadaannya dalam administrasi Hindia Belanda sebagai bagian dari daerah Tanah Datar Afdealing pada waktu itu.

SEJARAH SINGKAT KOTA SAWAHLUNTO
SEJARAH SINGKAT KOTA SAWAHLUNTO

SEJARAH SINGKAT KOTA SAWAHLUNTO

Batubara menyampaikan Sawahlunto sebagai catatan penting pemerintah Hindia Belanda. Pembukaan Tambang Batubara Sawahlunto pada tahun 1891 adalah aset paling penting bagi pemerintah Kolonial Belanda, karena tingginya permintaan dunia akan batubara sebagai sumber energi pada abad penemuan Mesin Uap di Eropa Barat. Apalagi cadangan deposit Batubara Sawahlunto diperkirakan mencapai 205 juta ton. Cadangan batubara tersebar termasuk Perambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padang Sibusuk, Desa Gadang dan Tanjung Ampalu.

Bisnis pertambangan ini mencapai puncaknya pada 1920-1921, pada saat itu jumlah pekerja mencapai ribuan, selain itu ada hampir seratus orang Belanda atau Indo yang menjadi pemimpin perusahaan, ahli dan staf kunci lainnya. Sejumlah pekerja menyebabkan konsentrasi penduduk, karena selain membawa keluarga juga mengundang para imigran. Sehingga menciptakan kegiatan ekonomi yang terkait dengan bisnis jasa seperti laundry, tukang cukur, layanan kesehatan, pemilik toko dan pekerja, penjual barang untuk kebutuhan keluarga dan sebagainya. Terlebih lagi, perusahaan pertambangan berusaha memberikan layanan terbaik sehingga para pekerjanya merasa betah di kota yang relatif terisolasi pada waktu itu, dengan menyelenggarakan hiburan, fasilitas pendidikan, rumah sakit yang memadai, dan bahkan pasar malam reguler. Ditambah dengan kehadiran orang-orang Belanda dengan fasilitas eksklusif, menjadikan Sawahlunto alasan kuat untuk menetapkan Sawahlunto sebagai kota yang memiliki hak administrasi atau desentralisasi sendiri dengan status Gementee berdasarkan Stadsblaad Van Nederlansch Indie pada tahun 1918. Kota ini dijalankan oleh Stadesgemeenteraad ( DPRD) dan Burgemeester (Walikota).

Pada saat kemerdekaan, Pemerintah Gemeente diperintah oleh Peraturan Residen Sumatera Barat Nomor 20 dan 21 tahun 1946 tentang Pemerintah Nagari dan Lembaga Regional. Pada 10 Maret 1949 diadakan pertemuan dengan hasil pusat pemerintahan Solok Afdealing yang sebelumnya di Sawahlunto dibagi menjadi Kabupaten / Sawahlunto Sijunjung dan Kabupaten Solok. Jadi pemerintahan Stad Gemeente Sawahlunto dipegang oleh Bupati Sawahlunto / Sijunjung. Kemudian berdasarkan UU No. 18 tahun 1965, status Sawahlunto diubah menjadi Daerah Tingkat II yang berdiri sendiri sebagai Kotamadya Sawahlunto dengan Walikota pertama Achmad Noerdin, SH mulai dari 11 Juni 1965 melalui Keputusan Menteri Nomor Urusan Dalam Negeri. 15/2 / 13-227 tanggal 8 Maret 1965.

Seiring dengan perkembangan wilayah dan populasi di Peraturan Pemerintah Kota Sawahlunto Nomor 44 tahun 1990 tentang Perubahan Batas Wilayah Sekunder Sawahlunto, Tingkat Kabupaten Sawahlunto / Sijunjung dan Kabupaten Solok Tingkat II, di mana Kota Dati II wilayah Sawahlunto diperluas ke mencakup semua wilayah Kecamatan Talawi, Dati Sawahlunto / Kabupaten Sijunjung yang terdiri dari 17 desa, bagian dari Kabupaten Sawahlunto Tingkat II Kabupaten Sawahlunto / Sijunjung terdiri dari 11 Desa dan sebagian dari X Dioto Kecamatan Diatas Kabupaten Solok Tingkat II terdiri dari 11 Desa. (Seksi 2)

Setelah lebih dari seabad, batu bara sebagai sumber daya tak terbarukan menjadi semakin menipis dan tidak lagi memberi harapan penuh seperti di masa lalu. Bagi kehidupan kota dan penduduk Kota, Kota Sawahlunto terancam menjadi kota mati, tetapi kehidupan kota dengan semua pendukungnya harus terus berlanjut. Alternatif dibutuhkan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah. Gengsi kota Sawahlunto sebagai kota penambangan batubara mulai memudar seiring dengan menipisnya cadangan batubara / pin terbuka.

Leave a Reply