SEJARAH KOTA MATARAM

Kota Mataram adalah ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sasak dan adat Bali cukup untuk mewarnai masyarakat kota ini. Selama Pulau Lombok diperintah oleh raja-raja, Raja Mataram pada tahun 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian pada tahun 1843 menaklukkan kerajaan Kahuripan. Kemudian ibukota Kerajaan dipindahkan ke Cakranegara dengan ukiran Kawi atas nama Istana Raja.

SEJARAH KOTA MATARAM
SEJARAH KOTA MATARAM

SEJARAH KOTA MATARAM

Raja Mataram (Lombok), selain dikenal sebagai orang kaya, juga seorang raja yang berspesialisasi dalam perencanaan tata ruang kota, melakukan sensus penduduk kerajaan dengan meminta semua penghuninya untuk mengumpulkan jarum. Penduduk pria dan wanita menggunakan jarum untuk menandakan ikatan.

Setelah raja Mataram jatuh oleh pemerintah Hindia Belanda, meski harus dibayar mahal, yaitu kematian Jend. P.P.H. van Ham (monumen itu di Karang Jangkong), Cakranegara mulai menerapkan sistem pemerintahan ganda di bawah Afdeling Bali Lombok, yang berbasis di Singaraja, Bali.

Pulau Lombok dalam pemerintahan ganda dibagi menjadi 3 (tiga) unit, dari partai kolonial sebagai wakil yang disebut pengendali dan dari daerah yang disebut Kepala Pemerintahan Daerah (KPS) hingga tingkat Listrik. Tiga wilayah administratif masih disebut Lombok Barat (Lombok Barat), Lombok Tengah (Lombok Tengah) dan Lombok Timur (Lombok Timur) yang dipimpin oleh seorang pengendali dan Kepala Pemerintah Daerah (KPS).

Untuk wilayah Lombok Barat (Lombok Barat) membawahi 7 (tujuh) wilayah administrasi yang meliputi Listrik Ampenan Barat di Dasan Agung, Listrik Ampenan di Narmada, Listrik Bayan di Bayan Belek, Asisten Distrik Gondang di Gondang, Tanjung Listrik di Tanjung, Listrik Gerung di Narmada, Listrik Bayan di Bayan Belek, Asisten Distrik Gondang di Gondang, Listrik Tanjung di Tanjung, Listrik Gerung di Narmada Gerung, dan Personel Cakranegara di Mayura.

Leave a Reply